BANDAR LAMPUNG, ARUSLAMPUNG — Pemerintah Provinsi Lampung mulai mengarahkan strategi pertumbuhan ekonomi pada penguatan hilirisasi komoditas, setelah pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 5,29 persen pada triwulan II 2026 dan menjadi yang tertinggi kedua di Pulau Sumatera.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan hal tersebut saat menghadiri pembukaan Lampung Begawi x Siger Fest 2026 yang diinisiasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung di Lampung City Mall, Jumat (18/9/2026).
Menurut Gubernur Mirza, Lampung memiliki modal ekonomi yang besar karena menjadi salah satu daerah penghasil komoditas pangan dan perkebunan strategis nasional. Produksi gabah atau padi Lampung mencapai sekitar 3,5 juta ton, dengan separuhnya didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan pangan di sejumlah provinsi.
Lampung juga disebut menyuplai 70 persen tapioka nasional, menjadi salah satu eksportir kopi nasional, produsen lada terbesar, serta berada di posisi kedua sebagai penghasil gula.
Namun, besarnya produksi komoditas tersebut dinilai belum sepenuhnya memberikan nilai tambah bagi masyarakat karena sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
Gubernur Mirza mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong hilirisasi sebagai strategi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Lampung dalam jangka panjang.
“Ke depan untuk mencapai 8 persen tidak bisa hanya dengan regulasi. Harus ada kolaborasi, harus ada kreativitas, harus ada inovasi, dan tentunya yang paling penting sesuai dengan RPJMN kita harus melakukan hilirisasi. Kami melihat baru 30 persen komoditas kami yang dihilirisasi di Lampung,” ujar Mirza.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Lampung selama ini juga dipengaruhi pergerakan harga komoditas. Bahkan, pada 2026 Lampung disebut menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Sumatera setelah Kepulauan Riau.
“Selama 15 tahun, Provinsi Lampung ini pertumbuhan ekonominya selalu di bawah rata-rata nasional. 2026 kemarin kita nomor dua tertinggi se-Sumatera, jadi setelah Kepri, Lampung, karena harga komoditas,” katanya.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga komoditas mentah, strategi hilirisasi akan diarahkan mulai dari sentra ekonomi perdesaan hingga kawasan industri manufaktur.
Di tingkat perdesaan, pengembangan diarahkan pada industri pakan ayam lokal serta penguatan pascapanen komoditas kopi dan kakao. Sementara pada tahap lanjutan, pemerintah mendorong pengembangan industri manufaktur berbasis komoditas unggulan Lampung.
Transformasi tersebut juga mulai terlihat dari meningkatnya penggunaan teknologi pertanian. Belanja alat dan mesin pertanian atau alsintan di Lampung disebut meningkat hampir 200 persen, sedangkan armada logistik truk meningkat sekitar 50 persen.
Selain pertanian dan perkebunan, pemerintah juga melihat peluang dari sektor energi baru terbarukan dan pariwisata. Arus wisatawan domestik ke Lampung disebut meningkat dari sekitar 17 juta perjalanan pada 2024 menjadi 27 juta kunjungan pada 2025.
Potensi tersebut didukung struktur penduduk produktif, dengan sekitar 71 persen populasi Lampung berada dalam kelompok angkatan kerja produktif.
Gubernur Mirza juga mendorong kolaborasi dengan otoritas moneter dan sektor perbankan untuk mempercepat investasi, termasuk mengatasi hambatan dalam proses perizinan.
Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas A.M. Djiwandono mengapresiasi pertumbuhan ekonomi Lampung yang mencapai 5,29 persen pada triwulan II 2026.
Thomas menilai tantangan berikutnya bukan hanya mempertahankan pertumbuhan, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut menghasilkan nilai tambah yang lebih luas bagi masyarakat melalui hilirisasi dan investasi.
“Tantangannya bukan hanya bagaimana ekonomi tumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut menghasilkan nilai tambah yang semakin luas bagi masyarakat. Karena itu, seperti Pak Gub sampaikan, hilirisasi dan investasi menjadi luar biasa pentingnya,” ujar Thomas.
Bank Indonesia juga mendorong penguatan UMKM melalui kemitraan usaha, peningkatan kapasitas manajerial dan mutu produk, serta perluasan akses pembiayaan.
Komoditas unggulan Lampung seperti olahan pisang, kopi, dan wastra turut diarahkan agar dapat masuk ke rantai pasok global dan pasar ekspor.
Di sisi digitalisasi, hingga Juli 2026 tercatat sekitar 1,6 juta pengguna QRIS di Lampung atau tumbuh 17,38 persen secara tahunan. Jumlah merchant QRIS juga mencapai sekitar 916 ribu dan tumbuh 29,29 persen secara tahunan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo Epyanto mengatakan Lampung Begawi tahun ini tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan produk UMKM, tetapi juga diarahkan untuk memetakan sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus membuka peluang investasi.
Menurut Bimo, penguatan digitalisasi juga diarahkan untuk menciptakan efisiensi ekonomi secara lebih luas, sehingga dapat mendukung peningkatan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi daerah.











